In gutter

Industri film di tanah air kadang sedang menunjukkan gebrakan, benar banyak film Indonesia yang berhasil sukses di tayangkan di bioskop. Beberapa film bahkan mendapatkan penghargaan dari ajang perfilman mancanegara.

Sayangnya, tidak sedikit film Nusantara yang memperoleh sambutan kurang baik bahkan harus mendapat pahitnya pemboikotan. Kondisi itu dipengaruhi berbagai aspek seperti problem internal yang terjadi di tubuh rumah penerapan atau pelanggaran normal bangsa. Menariknya, hampir sebagian raksasa film kontroversial yang sempat ditolak bahkan diboikot telanjurkan mendapatkan apresiasi tinggi dari kancah internasional.

Susunan Film Indonesia Paling Polemis

  1. 2 Garis Biru (2019)

garis biru 2019
Film ini mendapatkan banyak reaksi pro serta kontra bahkan sebelum dirilis di bioskop. Banyak yang menentang film Dua Perenggan Biru karena alur kecek yang diangkat dinilai terlalu sensitif. Meskipun telah mendapatkan petisi pelarangan tayang, pada akhirnya film ini berhasil merilis poster dan weker tayang diseluruh bioskop zona air. Film Dua Perenggan Biru akan ditayangkan Juli 2019 di nonton film 21 .

Mengisahkan tentang Bima dan Dara sepasang tuan, keduanya masih sangat belia dan berstatus sebagai mahasiswi SMA. Cinta yang terlalu buta membuat mereka terkait dengan layaknya suami istri dalam luar nikah. Karena tuturan tersebut, Dara pun berbadan dua.

  1. Kucumbu Tubuh Indahku (2018)

Film ini menjadi sangat kontroversial karena mengusung genre maskulin-feminin. Dan belakangan penuh yang mengaitkan Kucumbu Tubuh Indahku sebagai film berupa LGBT. Menceritakan tentang Juno, seorang penari Lengger Lanang yang tumbuh di tengah-tengah kekerasan politik. Di usianya yang sangat muda, Juno telah melihat banyak kebengisan yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Dan karena kausa itulah, Juno muda harus hidup nomaden dari wahid tempat ke tempat yang lain yang kemudian memperkenalkannya secara berbagai orang baru. Film Kucumbu Tubuh Indahku barangkali banyak diboikot oleh permerintahan sebuah negara. Namun film ini tercatat telah memenangkan penghargaan dalam Asia Pacific Screen Award dan penghargaan bergengsi lainnya.

  1. Look of Silence (2014)

Merupakan salah satu film dokumenter terbaik yang tahu masuk dalam nominasi Oscar. Sayangnya, film garapan Oppenheimer ini banyak memperoleh penolakan dari berbagai pihak di Indonesia.

Senyap atau The Look of Silence menceritakan kisah Adi dan titisan yang dituduh sebagai anggota PKI. Tema utama film ini sekilas memang seakan-akan dengan film Jagal, namun film Senyap lebih penuh menjelaskan tentang kisah pembantaian massal.

  1. The Sun, The Moon and The Hurricane (2014)

Menjadi sangat polemis di Indonesia, karena film ini mengangkat tema LGBT. Sudah jadi rahasia biasa jika tema ini menyebabkan pro dan kontra. Padahal jika melihat dari sosok lain film ini punya jalan cerita yang baik. Akting para aktornya pun luar biasa bagus.

Film ini menyatakan kisah Rain dan Kris. Kisah dimulai ketika Kris menolong Rain yang dianiaya oleh teman SMA-nya. Pada akhir perkelahian yang berlangsung, Kris mengajak Rain menginap di rumahnya yang lalu menjadi rutinitas baru untuk Rain. Rain yang lugu memiliki karakter yang luar biasa berbeda dengan Kris yang bandel dan sangat jantan.

Karena sudah terbiasa megah, Rain yang memiliki gambaran homoseksual pada akhirnya jatuh cinta dengan Kris. Serta meskipun memiliki kekasih yang cantik, sebenarnya Kris kendati memiliki kecenderungan untuk menyukai sesama jenis. Pertentangan langsung pertentangan terjadi di renggangan keduanya, hingga suatu peristiwa pada akhirnya mengubah kehidupan persahabatan mereka.

  1. Parts of the Heart (2012)

Menyampaikan tentang Peter, pria homoseksual yang menetap di kota metropolitan, Jakarta. Kisah cinta Peter bukanlah kisah percintaan biasa, dia harus dengan perantara nabi berbagai babak sedari gelisah pertama hingga kehidupan pernikahan.

Pada film Parts of the Heart kita hendak melihat sisi lain dari kehidupan pria homoseksual, dikategorikan tekanan sosial yang dialaminya dari orang sekitar. Berhasilkah, Peter menjaga mahligai pernikahannya dan menjauh dari rayuan pria lain?

  1. About A Woman (2014)

Tidak berbeda tersendiri dari film sebelumnya yakni Something in The Way. Film About A Woman garapan Teddy Soeriaatmadja berniat tidak diangkat ke permadani lebar untuk menjaga substansi filmnya.

About A Woman mengisahkan mengenai seorang randa yang berusia 65 tahun. Hidupnya yang sendiri membuatnya merasa kesepian. Suatu hari, anaknya mengirimkan Abi murid SMA yang beru mara untuk menemani sekaligus mengurusnya.

Tapi entah sejak masa, Abi dan si bujang mulai memiliki pandangan tidak sama antara satu dan lainnya. Kasih sayang yang tadinya bersifat biasa mulai bidis menjadi kasih sayang yang bersifat cinta. Konsep kepercayaan, seksualitas serta kemunafikan hampir memenuhi alur cerita About A Woman. Film itu hanya diputar di Singapura dan berhasil memperoleh banyak perhatian dari luar zona.

  1. Something In The Way (2013)

Berbeda dari genre dan konsep sebelumnya, film Something in the Way menjadi kontroversial karena dinilai sebagai film Dewasa. Film ini menceritakan tentang Ahmad (Reza Rahadian) seorang pemuda yang rajin, pandai berkongsi dan pekerja keras. Tapi, di sisi tergelapnya Ahmad ternyata memiliki libido yang tinggi terutama ketika tahu wanita.

Kisah Ahmad jadi semakin rumit saat dirinya jatuh cinta pada Kinar (Ratu Felisha) yang bekerja serupa PSK. Sedangkan di pihak lainnya, ada Raya (Rosnita Putri) seorang gadis indah hati yang ditunangkan beserta Ahmad.

  1. Siti (2014)

Film karya Eddie Cahyono ini mengisahkan tentang kehidupan perempuan yang berprofesi sebagai pembimbing karaoke kelas bawah di Parangtritis. Profesi yang dijalaninya ditentang oleh Bagus sang suami. Siti yang merasa terbang pikiran dan tertekan bertemu beserta polisi yang kemudian menghapuskan hubungan pernikahan dengannya.

Film hitam putih ini sebelumnya tidak ditayangkan di teater Indonesia. Tapi karena keberhasilannya menyabet penghargaan selaku Film Terbaik FFI 2015, pada akhirnya Film Siti berhasil naik ke layar bioskop xxi streaming .

  1. Act of Killing (2012)

Sebelumnya telah dijelaskan tentang film Jagal yang memiliki postulat film yang serupa seperti film Senyap. Film karya Oppenheimer ini dalam prosesnya cuma ditayangkan di lembaga dan kampus tertentu.

Film dokumenter ini banyak memperlihatkan sosok lain dari kisah pengatur pembunuhan anti-PKI. Act of Killing atau Jagal mengestimasi tragedi yang terjadi renggangan tahun 1965-1966 di mana pelaku pembunuhan tersebut memandang perbuatannya yang kejam serupa aksi heroik.

Film ini diboikot dan banyak ditentang karena dikhawatirkan akan menimbulkan jiwa komunisme pada tingkatan masa kini. Di gelanggang internasional, film Jagal berhasil mendapatkan penghargaan di BAFTA 2014.

Itulah daftar film paling kontroversial yang sempat melingkupi perkembangan perfilman dalam Indonesia. Salah satu atau beberapa film mungkin sedang familiar di telinga kita, bahkan mungkin sudah tahu ditonton sebelumnya.

Terlepas daripada kontroversial yang melingkupi film-film tersebut, sebagai penonton yang bijak setidaknya kita bisa memilih dan memilah mana film yang layak tunduk dan tidak. Hendaknya juga tidak langsung ikut menghakimi karya film milik orang lain tanpa melihat lebih dalam kualitas dan proses pembuatan dari film tersebut.

 

Deskripsi : Film polemis berikut pernah diboikot tapi justru mendapatkan apresiasi semampai dari kancah internasional, menyimak daftarnya di sini.

Recent Posts
Contact Us

Have a question for us? Fill out this form and one of our professionals will reach out to you.

Not readable? Change text. captcha txt